Showing posts with label pengobatan penyakit kulit dan kelamin. Show all posts
Showing posts with label pengobatan penyakit kulit dan kelamin. Show all posts

Monday, March 6, 2017

Anti jamur dalam dermatologi

Penyakit jamur superficial adalah penyakit kulit yang sering dijumpai di pusat pusat pelayanan kesehatan di indonesia. dan pada masa kini cukup banyak obat obatan anti jamur yang beredar di pasaran. khususnya untuk jamur superficial baik yang dipakai secara topikal maupun sistemik. Membanjirnya jenis-jenis obat anti jamur tesebut di pasaran mengharuskan seorang dokter dapat memilih dengan tepat obat obat anti jamur yang diperlukan

Obat anti jamur topikal yang lama pada umumnya mempunyai aktifitas antijamur lemah, spektrumnya sempit, dan kadang kadang menyebabkan iritasi, tetapi harganya murah. sebaliknya obat-obat anti jamur topikal yang baru umunya mempunyai aktifitas antijamur kuat, spektrum luas, tersedia dalam sediaan yang menyenangkan, tetapi harganya mahal, untuk pitu pemilihan obat anti jamur harus didasarkan atas diagnosa yang tepat, anatomi atau lokasi lesi, derajar dan luasnya lesi, dan pertimbangan harga.

Obat anti jamur sistemik sebaiknya dibatasi penggunaannya pada kondisi-kondisi tertentu mengingat efek sampingnya tidak sedikit.

Lanjutkan membaca . . .
Read More

Tuesday, February 16, 2016

Pemilihan Kortikosteroid Topikal


Selain indikasi penyakit, pemilihan kortikosteroid topical perlu memperhatikan jenis steroid, basis, lokalisasi, umur penderita dan pemilihan sediaan kombinasi atau murni.
Menurut potensinya kortikosteroid topical dapat digolongkan menjadi 4 jenis, yaitu Golongan I (Potensi Lemah), Golongan II (Potensi sedang), Golongan III (potensi kuat) dan Golongan IV (Potensi sangat kuat). Potensi tersebut didasarkan atas sifat anti-inflamasi dan sifat antimitosisnya (Sneddon). Kortikosteroid golongan I pada umumnya mempunyai sifat anti-inflamasi saja, sedangkan golongan IV mempunyai baik sifat anti-inflamasi maupun antimitosis yang sangat kuat. Golongan II dan III berada di antaranya.

Perbedaan Sifat Berbagai Golongan Steroid Topikal
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Golongan                   Potensial                  Anti-inflamasi:           Antihistamin:
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
I                                   Lemah                       +                                           -
II                                   Sedang                     ++                                        +
III                                  Kuat                          +++                                      +
IV                                  Sangat Kuat            ++++                                     -

Kortikosteroid topical tersedia dalam berbagai basis, seperti salep, krim, losio, jeli, aerosol, dan tingtura. Untuk pemilhan basis perlu dipertimbangkan factor akseptabilitas penderita, kosmetika serta harus di ingat prinsip prinsip dasar pemakaian obat topical.

Untuk Lesi lesi yang akut dan membasah sebaiknya digunakan bentuk losio atau krim, sedang untuk lesi lesi kronik, kering dan likenifikasi paling baik kalau dipakai bentuk salep lebih poten dibantingkan dengan krim atau losio, tetapi basis basis modern telah begitu canggih sehingga hal ini tdak selalu demikian.
Pada beberapa sediaan telah ditambahkan bahan bahan untuk meningkatkan penetrasinya sehingga kerjanya berubah, seperti propilen glikol, paraben atau lanolin, tetapi kadang-kadang bahan bahan tambahan ini justru menyebabkan terjadinya dermatitis kontak alergi. Bhan tambahan seperti etilen-diamin kebanyakan di dapati pada sediaan dengan basis krim, segingga apabila erjadi reaksi alergi dapat dicoba diberikan sediaan dengan basis salep. Dan harap diperhatikan bahwa basis yang mengandung propilenglikol, alcohol seperti gel atau mengandung urea dapat menimbulkan rasa nyeri pada lesi terbuka.

Perlu diingat pengenceran atau pencampuran sediaan paten kortikosteroid dengan bahan bahan seperti asam salisilat, likuor karbonis detergen dapat menyebabkan hilangnya stabilitas dan pecahnya basis, serta mengubah bahan aktif menjadi ester yang kurang aktif. Juga Penambahan bahan bahan lain dapat menimbukan kontaminasi dengan miroorganisme. Seandainya pengenceran sediaan kortikosteroid tersebut sudah dilakukan dengan basis yang tepat, misalnya 1:1, kekuatan steroid hasil pengenceran tidaklah selalu menjadi separuhnya (Balf Strength)(Hodge).
Lokalisasi lesi juga menentukan pemilihan kortikosteroid topical. Untuk lesi-lesi di muka, genital dan aksila, oleh karena penetrasi obat di daerah tersebut cukup tinggi hendaknya dipergunakan kortikosteroid golongan lemah. Sebaliknya pada lesi lesi di daerah palmoplantar dan ekstensor perlu dipilih kortikosteroid yan cukup kuat. Demikian pula untuk lesi sekitar mata sebaiknya dipergunakan kortikosteroid lemah mengingat kemungkinan dapat masuk ke konjungtiva dengan akibat absorbs berlebihan yang dapat menimbulkan katarak dan glaucoma.
Pada bayi dan anak anak, khususnya dengan ekzem atopic yang memerlukan pengobatan lama, sebainya juga dipergunakan steroid golongan lemah, demikian pula pada kulit orang tua.

Beberapa sediaan kortikosteroid dikombinasikan dengan berbagai antimikroba seperti nistatin, neomisin, iodoklorhidroksi kinolin atau klokinol. Pemakaian sediaan kombinasi ini dapat dipakai pada kondisi tertentu seperti bayi atau anak dengan ekzem infantile karena kemungkinan infeksi sekunder sangat sering disertai dengan infeksi kandida. Hanya perlu diperhatikan bahwa  pengobatan sekali tembak ini yang tampaknya praktis akan menyebabkan keengganan mencari diagnosis setepat tepatnya, memacu timbulnya mikroorganisme yang resisten dan memungkinkan timbulnya sensitisasi oleh bahan anti-infeksi tersebut (Ricciati & Lester).

Read More

Kortikosteroid Topikal dan Indikasi Kortikosteroid Topikal



Pada masa kini kortikosteroid topical merupakaan sediaan yang paling banyak dipakai dalam dermatologi, disamping obat-obat anti jamur topical, dan pada saat ini di pasaran dapat dijumpai tidak kurang dari 70 sediaan kortikosteroid topical dengan bermacam – macam nama dagang. Banyaknya sediaan kortikosteroid topical di pasaran selain memang karena perbedaan turunan steroidnya, pada umumnya hanya didasarkan atas perbedaan basis, ada tidaknya kombinasi dengan antimikroba atau kombinasi dengan bahan bahan peningkat penetrasi steroid. Beberapa perusahaan juga memproduksi steroid yang sama tetapi dalam berbagai konsentrasi dan dengan variasi untuk lokasi-lokasi tertentu, seperti untuk kepala atau muka dan sebagainya.
Indikasi
Kortikosteroid Topikal

Penyakit-penyakit yang dapat diobati dengan kortikosteroid topical dapat digolongkan menjadi (Robertson & MAibach):


  • Penyakit-penyakit yang umumnya sangat responsive terhadap pengobatan steroid topical seperti dermatitis atopic, dermatitis seboroik, dermatitis numuler, dermatitis kontak alergi dan iritan, psoriasis pada muka dan genital,, liken simplek, pruritus ani dan dermatitis stasis.


  • Penyakit-penyakit yang kurang responsive terhadap steroid topical seperti lupus eritematosus discoid, liken planum, nekrobiosis lipoidika, granuloma anulare, sarkiodosis dan psoriasis palmo-plantar.


Read More

Monday, February 15, 2016

Efek Samping Kortikosteroid Sistemik


Efek samping kortikosteroid sistemik pada umumnya disebabkan karena pengaruh kortikosteroid pada metabolism protein, hidrat karbon dan lemak serta keseimbangan cairan dan elektrolit. Namun dengan mempertimbangkan cara pemberian diatas, efek samping ini diharapkan dapat ditekan seminimal mungkin. Efek samping kortikosteroid sistemik telah banyak dilaporkan antara lain (Nater et Al):

1. Syndrom Cushing iatrogenic
2. PEnekanan HPA, sehingga pada penghentian pengobatan akan timbul reaksi withdrawal berupa kelemahan badan, lelah, anoreksia, demam ringan dan deskuamasi pada ujung-ujung  jari
3. Gangguan syaraf pusat berupa epilepsy, gangguan kepribadian sampai psikosis.
4. Pada kulit dapat terjadi striae, atrofi, eksimosis, erupsi akne, infeksi dan dermatitis perioral.
5. PEnekanan respon imun memburuknya tuberculosis, timbulnya infeksi jamur, bakteri dan virus.
6. Pada musculoskeletal terjadi osteoporosis yang akan menyebabkan fraktura kompresi, osteonekrosis dan miopati proksimal.
7. Pada mata dapat menimbulkan glaucoma dan katarak
8. Pada system endokrin dapat menimbulkan amenore sekunder.
9. Pada system kardiovaskular menimbukan hipertensi alkalosis, hipokalemia dan retensi natrium air.
10. PAda gastrointestinal dapat terjadi dispepsi, pancreatitis dan gangguan absorbsi kalium.

Read More

Pemilihan Kortikosteroid Sistemik

Pada prinsipnya kortikosteroid sistemik dapat dibagi menjadi 3 golongan menurut lama kerjanya, yaitu steroid dengan kerja pendek, kerja menengah dan kerja panjang. Kortikosteroid jangka pendek mempunyai waktu paruh 8-12 jam, kerja menengah antara 18-36 jam dan kerja panjang antara 36-54 jam.

Macam Kortikosteroid dan dosis ekivalennya
-------------------------------------------------------------------------------------------
Macam                                       Lama Kerja                    Dosis Ekivalen
-------------------------------------------------------------------------------------------
Kortisol (hidrokortison)             Pendek                           20
Kortison                                     Pendek                           25
Prednison                                   Menengah                      5
Prednisolon                                Menengah                      5
Metilprednisolong                     Menengah                       4
Triamsinolon                             Menengah                       4
Parametason                              Panjang                            2
Betametason                              Panjang                            0,6
Deksametason                            Panjang                           0,6

Pada penggunaan steroid jangka panjang seperti pada pengobatan pemfigus, dianjurkan untuk tidak menggunakan steroid kerja panjang, demikian pula pada penggunaan dosis selang, sebaiknya dipilih kortikosteroid kerja menengah (Spark).
Read More

Sunday, February 14, 2016

Indikasi Kortikosteroid Sistemik Dalam Klinik


Di dalam dermatologi, kortikosteroid dapat digunakan secara sistemik, topikal mauoun intralesi.

PEnggunaaan utama kortikosteroid sistemik (oral atau parenteral) dalam dermatologi meliputi (Spark):

1. Sebagai pelindung jangka pendek pada penyakit-penyakit akut dan berat seperti eritema eksudativum multi forme, urtikaria (dengan penyebab yang sudah jelas), erupsi obat berat, dermatitis kontak alergi akut, dan nekrolisis epidermal toksis.

2. Keadaan-keadaan reaksi alergi atau anafilaksi yang bersifat gawat darurat: syok anafilaksi, gigitan serangga beracun.

3. penyakit penyakit imunologik berat dan sistemik seperti lupus eritematosus, dermatomiositis, dan pioderma gangrenosum.

4. Penyakit penyakit vaskuler tertentu yang diduga berpangkal pada proses imunologi seperti poliaarteritis nodosa, arteritis temporalis, granulomatosis wegener, purpura trombositopenia dan beberapa vaskulitis alergika.

5. penyakit-penyakit kronik yang bersifat fatal seperti pemfigus, pemfigoid bulosa, dan dermatitis ekfoliativa.

6. Keadaan keadaan lain seperti epidermolisis bulosa pada anak, aftosis persisten yang sangat nyeri dan sarkoidosis.

7. Merupakan indikasi relatif pada penyakit penyakit seperti liken planum, retikulosis, ekzem berat, penyakit reiter, sindrom Sjogren, dan kadang-kadang pada akne berat dan hidradenitis supurativa.
Read More

Mekanisme Kerja Kortikosteroid


Pada prinsipnya ada 3 sifat dari kortikosteroid yang dipergunakan dalam dermatologi:

1. Anti-inflamasi
Aktivitas anti-inflamasi dari kortikosteroid ini merupakan efek utama yang diharapkan dalam dermatologi, baik pada penggunaan secara sistemik maupun topikal. Efek ini diduga disebabkan karena kortikosteroid bekerja dengan mencegah proses marginasi (melekatnya lekosit dan monosit pada endotel pembulh darah) dan menghambat proses khemotaksis (migrasi sel-sel tersebut ke fokus peradangan) yang terjadi pada proses peradangan (Swartz and Dhluhy). Kortikosteroid juga menyebabkan vasokonstriksi, menurunkan permeabilitas membran dan menghambat pelepasan bahan toksis, sehingga akan mengurangi ekstravasasi serum, pembengkakan dan rasa gatal (Sneddon).

2. Imunosupresi
Sifat imunosupresif ini sebenarnya juga melibatkan sifat anti-inflamasi dari kortikosteroid, karena inflamasi merupakan bagiandari respon kekebalan tubuh. Kortokosteroid juga menghambat pembelahan sel-sel limfoid, melisis sel limfosit B dan menghambat kerja limfokin pada sasaran (Swartz and Dhluhy). Jadi dapat disimpulkan bahwa kortikosteroid bekerja menekan reaksi hipersensitifitas, baik tipe I, II, III (humoral), maupun tipe IV (Seluler).

3. Antimitosis (antiproliferasi)
Kortikosteroid mempunyai sifat antimitosis dengan menekan pembelahan sel, menurunkan transkripsi RNA, mengurangi sintesis DNA dan mungkin juga reparasi DNA (Riciati & Lester). Akibat difat ini pengolesan kortikosteroid pada kulit akan menyebabkan penipisan epidermis dan sel selnya mengecil. Disamping pada sel sel fibroblas, sehingga pemakaian jangka panjang dapat menyebabkan gangguan sintesis kolagen dengan akibat terjadinya striae dan atrofi (Jones). Kerja antimitosis ini makin kuat pada steroid yang mengandung fluor.
Read More

Kortikosteroid Dalam Dermatologi


Perkembangan dermatoterapi terjadi dengan pesatnya setelah ditemukannya kortikosteroid. Pada masa kini kortikosteroid merupakan obat yang paling banyak dipergunakan dalam dermatoterapi baik secara topikal maupun sistemik. cukup seriusnya efek samping yg dapat terjadi pada pemakaian kortikosteroid, mengharuskan seorang dokter  mempertimbangkan secara matang dan teliti antara keuntungan dan kerugiannya. Untuk itu dibutuhkan pemahaman yang mendalam mengenai indikasi, kontraindikasi, jenis jenis kortikosteroid, cara pemberian, serta efek samping yan dapat terjadi.

Perlu diperhatikan bahwa walupun pemakaian kortikosteroid tampak memberikan perbaikan klinis yang mencolok, teteapi harus selalu diingat bahwa regimen optimal pengobatan dengan kortikosteroid sampai saat ini masih belum jelas dan bahwa kortikosteroid sebenarnya hanya bersifat paliatif atau mempermudah penyembuhan alamiah, jadi kortikosteroid tidak bersifat menyembuhkan penyakit kulit tersebut. (Corticosteroid do not cure any of the skin disorders- Hodge-)
Read More
Powered by Blogger.

© 2011 Pengobatan Penyakit Kulit dan Kelamin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena