Showing posts with label Mekanisme Kerja Obat. Show all posts
Showing posts with label Mekanisme Kerja Obat. Show all posts

Sunday, February 14, 2016

Indikasi Kortikosteroid Sistemik Dalam Klinik


Di dalam dermatologi, kortikosteroid dapat digunakan secara sistemik, topikal mauoun intralesi.

PEnggunaaan utama kortikosteroid sistemik (oral atau parenteral) dalam dermatologi meliputi (Spark):

1. Sebagai pelindung jangka pendek pada penyakit-penyakit akut dan berat seperti eritema eksudativum multi forme, urtikaria (dengan penyebab yang sudah jelas), erupsi obat berat, dermatitis kontak alergi akut, dan nekrolisis epidermal toksis.

2. Keadaan-keadaan reaksi alergi atau anafilaksi yang bersifat gawat darurat: syok anafilaksi, gigitan serangga beracun.

3. penyakit penyakit imunologik berat dan sistemik seperti lupus eritematosus, dermatomiositis, dan pioderma gangrenosum.

4. Penyakit penyakit vaskuler tertentu yang diduga berpangkal pada proses imunologi seperti poliaarteritis nodosa, arteritis temporalis, granulomatosis wegener, purpura trombositopenia dan beberapa vaskulitis alergika.

5. penyakit-penyakit kronik yang bersifat fatal seperti pemfigus, pemfigoid bulosa, dan dermatitis ekfoliativa.

6. Keadaan keadaan lain seperti epidermolisis bulosa pada anak, aftosis persisten yang sangat nyeri dan sarkoidosis.

7. Merupakan indikasi relatif pada penyakit penyakit seperti liken planum, retikulosis, ekzem berat, penyakit reiter, sindrom Sjogren, dan kadang-kadang pada akne berat dan hidradenitis supurativa.
Read More

Mekanisme Kerja Kortikosteroid


Pada prinsipnya ada 3 sifat dari kortikosteroid yang dipergunakan dalam dermatologi:

1. Anti-inflamasi
Aktivitas anti-inflamasi dari kortikosteroid ini merupakan efek utama yang diharapkan dalam dermatologi, baik pada penggunaan secara sistemik maupun topikal. Efek ini diduga disebabkan karena kortikosteroid bekerja dengan mencegah proses marginasi (melekatnya lekosit dan monosit pada endotel pembulh darah) dan menghambat proses khemotaksis (migrasi sel-sel tersebut ke fokus peradangan) yang terjadi pada proses peradangan (Swartz and Dhluhy). Kortikosteroid juga menyebabkan vasokonstriksi, menurunkan permeabilitas membran dan menghambat pelepasan bahan toksis, sehingga akan mengurangi ekstravasasi serum, pembengkakan dan rasa gatal (Sneddon).

2. Imunosupresi
Sifat imunosupresif ini sebenarnya juga melibatkan sifat anti-inflamasi dari kortikosteroid, karena inflamasi merupakan bagiandari respon kekebalan tubuh. Kortokosteroid juga menghambat pembelahan sel-sel limfoid, melisis sel limfosit B dan menghambat kerja limfokin pada sasaran (Swartz and Dhluhy). Jadi dapat disimpulkan bahwa kortikosteroid bekerja menekan reaksi hipersensitifitas, baik tipe I, II, III (humoral), maupun tipe IV (Seluler).

3. Antimitosis (antiproliferasi)
Kortikosteroid mempunyai sifat antimitosis dengan menekan pembelahan sel, menurunkan transkripsi RNA, mengurangi sintesis DNA dan mungkin juga reparasi DNA (Riciati & Lester). Akibat difat ini pengolesan kortikosteroid pada kulit akan menyebabkan penipisan epidermis dan sel selnya mengecil. Disamping pada sel sel fibroblas, sehingga pemakaian jangka panjang dapat menyebabkan gangguan sintesis kolagen dengan akibat terjadinya striae dan atrofi (Jones). Kerja antimitosis ini makin kuat pada steroid yang mengandung fluor.
Read More
Powered by Blogger.

© 2011 Pengobatan Penyakit Kulit dan Kelamin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena